Eppo, Tintin, Son Goku Dan Mata Yang Besar
Berhubung sekarang lagi semangat-semangatnya saya merapihkan dan mendata ulang semua komik saya, terutama komik terjemahan dari luar Asia sana, komik Eropa, dan sedikit komik Amerika milik saya. Mengingat sekarang harga jual yang diberikan penjual buku bekas sangat tidak masuk akal…Jadi saya mulai memasukan mereka kedalam plastik satu persatu…Sayang sekali rasanya kalau nanti anak saya tidak sempat tahu komik-komik Eropa ini, apalagi sampai tidak sempat mencintai mereka, sebagai mana saya dahulu…
Seperti layaknya anak-anak yang tumbuh di era 80an, saya berkenalan pertama kali dengan komik lewat majalah Eppo, majalah yang berisi cerita bersambung dari komik-komik Eropa sana, dan berkenalan dengan Storm, Roel Djikstra [yang nantinya mereka-mkereka ini muncul juga di majalah Hai], Agen 327, dan lain-lain…
Selain Eppo, tentunya Indira dengan Tintin-nya menyumbang jasa besar dalam menumbuhkan kecintaan saya akan komik. saya ingat sekali bagaimana rasanya ke Indira, yang kebetulan dekat sekali dengan rumah kakek saya, dibilangan Menteng, Jakarta Pusat, hanya jalan kaki sepuluh menit sampai, dan memutar-mutar rak komik yang terbuat dari besi layaknya gantungan baju berputar, di sebelah kanan dari pintu masuk Indira.>Kisah petualangan Tintin, begitulah judul aslinya, bercerita tentang seorang wartawan muda yang bernama Tintin, bersama anjingnya yang setia, Snowy. Komik buatan Hergé ini mengajak saya, si pembaca untuk berpetualang mengelilingi dunia, mengikuti kasus-kasus yang di pecahkan oleh si Tintin ini, reporter yang terkadang lebih seperti seorang detektif, mengalahkan Thompson dan Thomson, si kembar dektektif yang selalu sial. Untuk detail tentang Tintin, saya bahas dientry saya lainnya.
Mengapa saya suka Tintin?, walaupun secara detail pewajahan karakternya kurang detail, mata Tintin hanyalah sebuah titik, dan raut muka yang sangat sederhana…tetapi detail sekali untuk hal-hal lainya, penuh rasanya panelnya dengan detail-detail background yang luar biasa buat saya…
Selain itu Tintin juga tanpa sadar mengajari saya untuk cinta akan sejarah, karena dalam beberapa petualangnya, sangat terkait dengan peristiwa sejarah yang terjadi di era dimana Hergé membuat kisah-kisah Tintin tersebut…Coba saja lihat “Lotus Biru” misalnya, di sana, walaupun jujur saat pertama kali membacanya, saya harus ekstra kerjaan dengan bertanya ke Ibu saya, ataupun membuka ensiklopedia, saya belajar mengenai madat [opium], perang Boxer, walaupun secara eksplisit, dan yang terhebat adalah, mengajak saya pergi ke Cina pinggiran sana, dengan illustrasi komik yang nyaris detail suasana di Cina sana…walaupun Hergé sendiri dalam menggambarkan kisahnya bersenjatakan foto-foto orang dan hasil wawancara orang, tapi serasa Hergé sendiri yang kesana, baik Tibet, Cina, Mesir dan Indonesia.
Dari mana saya kenal Tintin? tentu saja dari Ibu saya, karena dia sendiri sudah mengenal Tintin dari zaman sebelum terbitan Indira, zaman terbitan asing, Belanda, dia lebih mengenal Kuifje tepatnya, Tintin dalam terbitan Belanda. Dan kemarin, sepulangnya dari mengajar di Depok sana, dia memamerkan saya akan komik Tintin edisi Gramedia yang baru dibelinya…
Selain Tintin, salah satu seri komik terbitan Indira lainnya yang menjadi kegemaran saya adalah Tanguy & Lavedure. Nah yang ini komik anak laki-laki banget, berbeda dengan Tintin yang segala umur dan gender bisa masuk, kalau Tanguy & Lavedure, sepertinya hanya yang suka militer, pesawat terbang dan sangat laki-laki saja yang suka membacanya, walaupun tidak ada aturan yang melarang mereka yang tidak suka hal-hal tersebut, untuk membacanya.
Tanguy & Lavedure sendiri bercerita tentang petualangan dua pilot pesawat tempur Mirage bernama, Tanguy dan kawan karibnya Lavedure. Walaupun cenderung serius, tetapi kisah perjalan mereka berdua di bumbui oleh humor-humor segar, ala Lavedure, yang berkarakter sedikit sok tahu, jahil, tetapi suka sial, berbeda dengan rekannya si Tanguy yang lebih dewasa, cool, dan terlihat lebih handal. Komik ini bercerita tentang kisah-kisah petualangan yang dialami Tanguy & Lavedure, dalam menjalankan misi-misi mereka di skuadron Bangau Terbang.
Komikus/illustratornya sendiri untuk komik petualangan Tanguy & Lavedure ini, terbagi dalam kedua era, era Albert Uderzo dan era Jijé, dengan naskah /ide cerita dari Jean-Michel Charlier. Uderzo sendiri akhirnya sibuk dengan serialnya yang terkenal, Asterix bersama dengan René Goscinny. Perbedaan antara versi Uderzo dengan versi Jijé terlihat dalam cara pengambarannya, Uderzo lebih terlihat komikal, dan terkadang ceritanay lebih banyak bumbu humornya. Sedangkan versi Jijé, cenderung realistik, dan serius isinya. Tetapi saya kok lebih suka versi Jijé rasanya. Lebih menegangkan.
Seperti halnya seri petualangan Tintin, saya juga banyak mendapatkan pelajaran dari Tanguy & Lavedure ini. walaupun rasanya jauh lebih berat daripada Tintin, lebih serius paling tidak, tetapi saya dahulu suka sekali dengan komik ini. Dari Tanguy & Lavedure saya bisa merasakan dan tahu sedikit tentang bangsa Arab modern, yang penuh dengan revolusi, penggulingan kekuasaan [lihat "Letnan Double Bang"], hingga perlombaan senjata/penjualan pesawat terbang, anatara Mirage dan Mig, serta kecangihan pesawat tempur Harrier milik Inggris. Dan itu semua belajar dari komik, media yang terkadang dianggap sampah dan dipandang sebelah mata di mata dunia literatur dahulu.
Nah terakhir dari komik-komik Eropa favorit saya dahulu, adalah kisah petulanagn Asterix dan sahabatnya Obelix, dua orang prajurit Galia. Yang berasal dari sebuah desa Galia, yang merupakan satu-satunya desa di Galia, yang belum jatuh ketangan kekaisaran Romawi. Dan tentunya membuat gila sang kaisar Romawi, Julius Caesar.
Asterix, Obelix dan Idefix, anjing Obelix, sering melakukan petualangan, menjelajah ke penjuru dunia, mulai dari ke timur tengah, ke Mesir, keliling Eropa, hingga ke benua Amerika. Dan hebatnya duo Uderzo & Goscinny ini, berhasil membuat karakter yang berbeda-beda, tidak hanya secara visual tetapi juga dari cara berbicara, yang juga secara visual/teks keluar dari jenis font yang dipakai, untuk bangsa Jerman misalnya, teks dalam balon suara menggunakan jenis huruf Gothic, serta nama-nama mereka, yang berbeda sesuai suku bangsa mereka. Seru yah!
Banyaknya karakter ini lah yang membuat saya suka dengan kisah perajurit Galia ini. Contoh lagi bajak laut yang selalu berpapasan dengan mereka jika Asterix dan Obelix melakukan perjalanan dengan kapal/perahu. Dalam satu kapal terdapat banyak karakter disana, mulai dari sang kepala bajak laut, yang terlihat paling bengis tetapi takutnya setengah mati, kalau melihat Asterix dan Obelix, takut kapalnya di tenggelamkan oleh mereka, hinga menengelamkan kapalnya sendiri, sang asisten kapten kapal, pelaut tua berkaki kayu, yang selalu mengoceh dalam bahasa Latin, hingga sang juru lihat di atas tiang sana, yang besar, berkulit hitam legam, tetapi gagu…gila kan…!
Walaupun komikal, tetapi petualangan Asterix ini sangatlah kaya akan detail, coba lihat kisah mereka dengan Cleopatra, lihatlah baju yang dipakai orang-orang mesir itu dan segala alat regalia-nya Cleopatra, wah dahsyat! Dan bodohnya serial Asterix ini sering terdapat penampakan-penampakan [cameo], mulai dari Spartakusnya Kirk Douglas, The Beatles [lihat Asterix di Inggris], Laurel & Hardy, Manneken pis hingga si Michelin Man! Dan semakin saya dewasa, sejalan dengan bertambahnya pengetahuan saya yang saya miliki, semakin banyak hal-hal tersembunyi ang saya temukan di kisah Asterix ini…Seperti karakter bangsa Arab yang sibuk berkelahi satu sama lainnya, seperti yang bisa kita lihat dalam “Asterix dan Putri Rahazade”.
Jadi mengerti dong mengapa saya suka Asterix…demi Toutatis!
Publikasi komik-komik Eropa ini, selain ketiga komik diatas, tumbuh subur di Indonesia pada era paruh 70an, selama era 80an dan berhenti di awal tahun 90an, dimana Indira sudah sekarat, Sinar Harapan, penerbit Asterix disini sudah separuh nafas, Erlangga, Aya Media Pustaka mulai gelagapan, dan Misurid mulai hilang, tenggelam. Gramedia? mereka banting setir dari komik Eropa yang cenderung semakin mahal pembuatannya, karena berwarna, dan harga hak ciptanya mahal, lari ke Manga Jepang dan Manhua Cina.
Mulai lah toko buku dibanjiri oleh terbitan Elex Media, anak perusahan Gramedia pada akhir era 80an, mulai dari serial Candy-Candy, yang tidak asing lagi, karena pernah ditayangkan oleh TVRI kartunya [Anime], berbarengan dengan Doraemon, disusul dengan Kung Fu Boy dan Dragon Ball dengan kisah perjalanan Son Goku mencari bola naga, keseluruh penjuru dunia. Selain Elex, Rajawai Press, menerbitkan City Hunter, yang genrenya rada-rada dewasa, penuh sensoran.
Dan mulailah dominasi Manga dan Manhua menjajah Indonesia…kalaupun terkadang masih diselingi dengan terbitnya Asterix, dan komik-komik Amerika…Secara cerita, sebenarnya kalau kita mau mengikuti komik Manga, terlebih lagi versi penerbit kecil, bawah tanah, yang cenderung sangat dewasa, kalau tidak bisa dibilang porno, cerita-cerita mereka lebih beragam lagi, lebih sinting lagi, dibandingkan komik Eropa yang cenderung bercerita tentang kehidupan biasa yang normal. Mulai dari kisah seorang ahli kung fu yang berkelana, kisah seorang agen penyelidik asuransi, kisah kehidupan masa depan, hingga kisah seorang pembuat film porno!
Terlepas dari isinya yang beragam, yang sangat menarik saya, ada satu hal yang membuat saya miris melihat dominasi komik Manga ini. Karena dominasi ini, anak-anak pembaca komik sekarang, dalam dua dekade lewat ini, hanya tahu komik yang berasal dari negeri Sakura ini dan Manhua yang berasal dari Cina, kalaupun ada komik diluar komik Asia ini, harganya terasa sangat mahal, sebagai perbandingan, komik Manga Indonesia: Rp. 16.000,- komik Tintin baru: Rp. 45.000,-, kasarnya harag satu komik Eropa bisa membeli tiga komik Manga. Tetapi bukan hanya ini saja masalahnya, yang lebih parah lagi kalau kita melihat anak-anak sekarang menggambar, mereka sangat terpengaruh dengn gaya gambar ala Manga, sehingga sulit rasanya menemukan gaya gambar yang orisinal, khas Indonesia, ditahun-tahun yang akan datang. Tidak salah memang, tetapi efeknya rada mengerikan memang melihat gambar manusia bermata besar seperti layaknya karakter Manga…
Soal tentang Manga favorit saya? nanti saya tulis kapan-kapan yah…
About this entry
You’re currently reading “Eppo, Tintin, Son Goku Dan Mata Yang Besar,” an entry on Cikibawawaw
- Published:
- Agustus 11, 2008 / 12:45 pm
- Tags:
- asterix, dragon ball, hergé, komik, manga, masa kecil, tanguy & lavedure, tintin




2 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]