Balas Dendam dan Kenny Rogers
Setelah menunggu hampir enam bulan, akhirnya pekerjaan illustrasi saya, pesanan dari sebuah perusahaan periklanan di bilangan pancoran, di gedung Hero lah pokoknya, lantai tujuh itu terbayar sudah. Padahal ya Tuhanku, nilainya nggak seberapa amat. Tapi bayarnya ya ampun lamanya, padahal kerjaannya diburu-buru waktu…
Singkat kata akhirnya gironya sudah di tangan saya dan cepat-cepat saya masukan dalam rekening saya, setelah berjalan kaki sedikit ke kompleks perkantoran Bidakara. Dan untuk merayakan perayaan yang tertunda ini, saya memutuskan berjalan-jalan ke PIM, untuk makan siang disana…
Setelah bingung mau makan dimana yah, hmmmm…dan konsultasi sebentar dengan pacar saya, via telpon, sambil sedikit berusaha bikin sirik mau makan enak, tapi nggak berhasil, nggak ngaruh, karena dia sedang sibuk. Akhirnya saya memutuskan untuk makan di Kenny Rogers, ketimbang ke Burger King di PIM 1.
Setelah mampir dulu ke Gramedia, belanja beberapa buku tentang Papua, saya bergegas ke PIM 2, sambil biasalah menclok sebentar ke Multi Toys, ngayal-ngayal beli mainan, tapi sedang tidak mampu…
Kenny Rogers, yak benar si penyanyi country jenggotan putih itu yang punya, sendiri saya temukan ketika saya meeting beberapa hari yang lalu dengan kawan saya Yuli, di PIM 2, di Daily Bread, ruang tamu saya itu…Dan sebenarnya zaman saya kuliah dulu, Kenny Rogers Roasters itu sudah pernah ada outletnya di PIM 1, tetapi karena posisinya rada tidak strategis terpencil, di luar, samping pintu Hero, dan harganya lumayan mahal untuk ukuran dahulu, si Kenny ini gulung tikar, atau mati suri, entah mana yang benar…Dan seingat saya, saya dan pacar saya dahulu sedih sekali kehilangan tempat makan, dikala kita sedang kaya dahulu itu…maklum mahasiswa, paling kesana cuma untuk makan merayakan ulang tahun, ulang tahun jadian, dapat rezeki, bla bla bla…
Jadilah saya merayakan sesuatu yang harusnya nggak usah dirayain di Kenny Rogers Roasters PIM 2. Oke menunya memang nggak banyak, tetapi buat apa juga banyak ragamnya, kalau memang yang dijual sebagai andalanya yah si ayam panggang berbumbu itu…Harganya sih memang nggak murah, paket yang seperempat potong ayam saja Rp 39.900,- tapi…itu side dishnya boleh pilih tiga macam, dan karena saya dari dulu suka sama macaroni and cheese-nya yah saya mesan hanya itu dan mashed potato-nya. Bukan hanya itu, kita juga berhak mendapat kue muffinnya juga, dan boleh milih…saya memilih yang vanilla, soalnya saya butuh yang manis-manis rasanya setelah terjemur di Gatot Subroto tadi…minumnya, Coca-Cola tentunya! Dan asiknya refill! Dan harganya yang Rp. 14.900,- itu rasanya jadi nggak masalah, karena bisa direfill tadi…
Oh ya si ayam itu bisa dipilih, mau yang rasa orisinil atau rasa lada hitam…orisinal lah, soalnya saya sudah terbayang-bayang rasanya yang rada masam itu, nyaaaaam!…selama ini kekangenan saya hanya bisa di bayar dengan memakan Nandos di Cilandak Town Square, yang sayangnya sudah hengkang dari sana…
Baru juga makan seperempat muffin dan setengah gelas Coca-Cola, eh makanannya sudah datang, eh kok rada berbeda yah? Kenapa ayamnya ada gravy saucenya, seingat saya dulu nggak ada deh, malah cenderung kayak Nandos deh rasanya dulu…karena penasaran saya cek ke mantan saya itu, ternyata saya benar…soalnya mau nanya ke mas-mas dan mbak-mbaknya, berani taruhan mana mereka tahu, soalnya mereka kan baru kerja disana, juga si kokinya…
Dan gravy-nya itu buat saya rada membunuh karakter rasa kecut dan asamnya si ayam dahulu….ya sudah lah, tetap enak sih, cuma jadi turun peringkatnya di bawah Nandos jadinya di daftar masakan ayam favorit saya, saya yang nggak suka makan ayam ini…tadinya mah KRR itu setingkat di atas Nandos di daftar saya itu…
Tapi dari sisi servis, buat saya jempolan…ketika kita diberi tempat duduk, langsung di kasih buku menunya…si mbak-mbaknya bilang ini buku menunya, silahkan dilihat dahulu, nanti jika sudah siap untuk memesan panggil saya, nama saya bla bla… Yang buat saya sangat sopan dan memang seharusnya begitu, bukan malah sibuk nungguin, menganggu dan kadang mengintimidasi kita dalam memesan makanan, sehingga terpaksa buru-buru memesannya…
Dan mereka sigap menawari saya refill dan tahu diri kapan saatnya mengambil piring makanan yang kosong, tanpa membuat si konsumen merasa terusir, malah ketika saya minta bon pembayaran, mereka tetap menawari saya untuk mengisi ulang gelas saya yang kosong, untuk ketiga kalinya…
Dan yang mencengangkan, pajaknya hanya untuk pajak Ppn saja, tanpa embel-embel servis…padahal saya dengan senang hati membayarnya jika ada…dan tetap saja saya tambahkan 10% lagi untuk servisnya…gila apa?
Dan ketika saya keluar dari restaurant, otomatis mbak-mbaknya mengucapkan terima kasih, dan jangan lupa untuk datang lagi…yang langsung saya jawab, oh ya pasti…saya akan kembali, dan mencoba ayam versi lada hitamnya…
Kalau kalian suka makan ayam, dan bosan fast food, apalagi ayam fast food ala kakek jenggotan lainnya itu…ke Kenny Rogers Roasters deh, ada juga di Pacific Place, kata pacar saya…
About this entry
You’re currently reading “Balas Dendam dan Kenny Rogers,” an entry on Cikibawawaw
- Published:
- Agustus 14, 2008 / 2:04 pm
- Tags:
- balas dendam, duniawi, enak, kenny rogers, Makan

4 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]