Desainer dan Klien…Catatan Seorang Freelancer Part 2
Ada beberapa tipe klien, menurut saya, yaitu klien bodoh, klien sok pintar dan klien pintar.
Klien bodoh biasanya tidak mengerti maunya apa, dan diajarin secara verbal sangat susah rasanya, harus melihat secara exact, benda dan desain nantinya seperti apa. Seringkali mengangap desainer hanya seorang tukang gambar, yang menerjemahkan idenya (si klien) kedalam suatu bentuk/benda, tanpa menerima masukan apapun dari si desainer.
Kalau mengenai bagaimana cara membayangkan end result dari desain yang dibuat si desainer, mungkin lumrah kalau mereka tidak dapat menangkap, sehingga perlu adanya bantuan visual dari desain yang saya buat.Apalagi kalau bendanya itu sebuah produk, tiga dimensi, yang memang sangat sulit untuk dipahami, karena rumit. Jadi alat bantu visual seperti 3D Max (atau lainnya) sangat membantu. Tapi ini pun kadangkala dipermasalahkan karena renderannya tidak photo realistic.
Yang repotnya adalah, jika si klien meminta dalam produk jadi, sedangkan benda yang dibuat adalah sebuah benda produksi masal. Seperti yang saya alami saat ini. Walaupun sebenarnya bukan masalah saya, karena yang ditagih adalah si produser/supplier, tapi tetap desainer harus dapat menjembati masalah ini, karena posisi saya sebagai seorang desainer sebagai penjembatan desain pilihan klien dan hasil akhirnya nanti, yang sedang dibuat oleh supplier. Jika produknya berupa barang yang tidak membutuhkan investasi tinggi ini tidak masalah, tapi jika untuk satu prototype membutuhkan dana yang tidak sedikit, ini baru masalah. Walaupun sang desainer telah memberikan gambar yang sudah sangat representatif, dan dimengerti klien, tapi tetap repot jadinya.
Tapi mungkin tidak enak juga sebenarnya mencap si klien bodoh. Terlalu sombong rasanya.
Tapi memang ada klien yang bodoh, yang mau seenaknya saja, membenarkan maunya sendiri, tanpa mendengar pendapat desainer, untungnya saya selalu siap menyanggah, hal-hal yang saya rasa tidak benar itu. Yang harus diingat adalah, mereka membutuhkan jasa kita, sebagai konsultan, tidak hanya kita yang butuh uang mereka saja. Dan disini harga diri seorang desainer harus ada.
Kasihannya adalah jika kita mencap diri kita, desainer, yang “butuh uang” (semua orang juga butuh, saya pun juga), dan menyerah terhadap klien, karena mereka lah sumber uang kita, repot jadinya. Ada seorang kawan saya, yang bergerak dalam bidang jasa komunikasi dan visual, mengangap begitulah industri, kadangkala kita harus menerima klien apa adanya. Sehingga akhirnya tunduk dengan klien, yang suka memaksakan maunya bagaimana, dan berapa lama proses pengerjaannya, hingga dalam hitungan jari harus selesai. Ini baru kasihan, karena sang desainer jadi kehilangan harga dirinya, tanpa sadar, hanya karena tuntutan uang?. Dan merasakan nikmatnya dirodi klien?
Contoh kasus lagi, rumah pengacara Warsito Sanyoto di bilangan Pondok Indah. Yang menurut saya sangat tidak artistik dan tidak jelas maunya apa, hanya seperti kios barang antik di Jalan Surabaya. Oke, memang selera akan desain, dalam hal ini arsitektural, tidak harus sama, apa yang saya anggap bagus belum tentu kalian anggap sama. Dan tidak bisalah kita menyalahkan selera seorang, Warsito yang ekletik itu, dengan saya yang simple desain kadangkala biomorph desain. Tetapi seharusnya, sang arsitek (yang kebetulan saya kenal) membantu menetapkan oke, benda ini pasang disini, okebenda ini terlalu besar melihat lahan yang ada. Karena kita memang tidak bisa terlalu lari dari keinginan si klien, karena kita diminta dia untuk menjadi konsultannya. Tapi seharusnya kita dapat mengakomodir keinginannya versus harusnya yang benar bagaimana. Jangan dengan tiba-tiba karena si klien suka lampu hias di jalanan seputar Jalan Thamrin, yang tidaklah cocok dengan melihat desain dan lahan yang ada, karena kliennya suka, kemudian kita pasang saja dengan semena-mena.
Pantas saja kalau seorang Henk DeVries, mengumpat-umpat dalam bahasa Belanda setiap melewati rumah itu. Kalau saya sudah cukup menerima, “oh ada Dufan di dekat rumah saya…” sambil tersenyum melihat Henk bersumpah serapah sepanjang perjalanan ke kantor saya.
Bagaimana jadinya tanggung jawab atas desain kalau kita membuat desain hanya berdasarkan kemauan si klien? Dan ngerinya portofolio kita pun bisa rusak jadinya, ini berbahaya…
Adalagi tipikal klien yang sok pintar. Biasanya klien-klien ini anak buah yang mencari muka kepada atasannya. Saya pernah berpresentasi, di sebuah rumah sakit jantung terkemuka di Jakarta, dihadapan peserta yang semuannya dokter, yang berlomba-lomba bertanya, karena kebetulan atasannya, dokter Aulia Pohan (bukan gubernur BI loh), hadir dan sibuk bertanya (sok nanya tepatnya) dan mempermasaklahkan hal-hal yang sebenarnya sudah saya kemukakan dalam presentasi, beberapa menit sebelumnya. Dan pertanyaannya sangatlah tidak bermutu. Dari mengapa warnanya begini, yang jelas-jelas merupakan warna koperat rumah sakit tersebut. Sampai ribut sendiri diantara mereka karena si A suka warna ini tapi si B suka warna itu. Dan saya hanya bisa tersenyum sebal sambil meremas tangan saya didepan panel. Melihat belasan dokter yang sibuk berargumen, sambil sesekali melirik kearah dokter Aulia yang sibuk mangut-mangut, karena menjadi bingung.
Ujung-ujungnya, saya didekati oleh salah satu penghubung saya di proyek ini, sambil berkata “udah deh pak, diajak makan dan jalan saja pak Aulia itu, nanti bereslah…” yang langsung saya tolak, “maaf pak, saya masih banyak urusan lainnya…terima kasih” dan langsung saya telpon ke kantor, langsung keatasan saya, meminta untuk “forget it….tolong coret saja mereka dari daftar kita” untungnya boss saya menerima alasan saya itu.
Ada lagi tipikal klien yang pintar, ini dia klien yang menyenangkan buat saya. Tidak hanya mereka bisa membaca desain. Dan jelas apa maunya mereka itu. Tetapi biasanya mereka akan mendengarkan secara seksama dahulu, baru bertanya. Dan pertanyaannya ini bisa membuat saya terdiam sejenak untuk berpikir. Biasanya tipikal klien seperti ini mengerti dari awal mengapa mereka butuh saya (kami para desainer) sebagai konsultan mereka. Dan terkadang saya mendapatkan banyak masukan dan pelajaran berharga dari mereka ini.
Contohnya, waktu saya mendesain Bandung Supermall, di awal tahun saya berkerja. Disaat sesi Tanya jawab yang diwarnai dengan sesi cari muka antara bawahan kepada sang atasan, dan si atasan hanya tersenyum melihat tingkah anak buahnya. Ketika selesai, mereka kehabis nafas memburu saya, sang direktur utama, Chairul Tanjung bertanya, hanya satu pertanyaan saja (dan sayangnya saya lupa apa pertanyaannya), saya sempat terdiam dan mencari jawabanya. No wonder kalau dia sukses seperti ini sekarang.
Dan ini berbeda jauh dengan pengalaman saya dengan bapak-bapak di proyek Plaza Semanggi dulu, yang terlihat ngejomplang, dibandingkan mereka di Bandung Supermall.
Salah satu lagi klien favorit saya, karena menurut saya pintar, adalah bapak-bapak di Dharmala Group. Mereka ini, karena pengalamanya yang sudak menahun disana. Walaupun penuh canda tawa, bergurau ala Harry Potter (karena mereka maniak cerita Harry Potter), dan juga karena kami berasal dari almamater yang sama, ketika presentasi, tapi jika bertanya, mereka kritisnya setengah mati. Untungnya saya berhasil meyakinkan mereka di setiap pertanyaan, walaupun beda usia saya dan mereka hampir 30 tahun jaraknya, tapi mereka tetap menghargai kami sebagai konsultan.
Saya jadi kangen berpresentasi dengan mereka…
About this entry
You’re currently reading “Desainer dan Klien…Catatan Seorang Freelancer Part 2,” an entry on Cikibawawaw
- Published:
- Agustus 31, 2008 / 3:23 am
- Tags:
- belajar, Desain, freelance, henk devries, hidup, Industrial Design, kerja, warsito sanyoto
3 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]