Lisong, Paha, Dan Bocah Tua Nakal

Kemarin sambil membersihkan Mac Book Ibu saya, luar dan dalam, plus memasukan beberapa MP3 dari Mac Booknya ke BlackBerry, yang kalau dipikir lagi canggih juga yah Ibu saya yang notabene sedikit gaptek itu, punya perangkat berteknologi tinggi, kadang lebih canggih daripada saya itu, tapi bukan ini ceritanya, lanjut…saya memasukan beberapa lagu karya Georges Bizet, yang diambil dari opera Carmen, karya Bizet yang paling terkenal. Kebetulan Ibu dan saya senang sekali opera ini, walaupun saya belum pernah secara utuh menonton opera Carmen ini, walaupun rasanya pernah membeli DVDnya yang entah ngumpet di sebelah mananya kamar saya ini…

“adik-adik mu suka sebal sama kamu karena kamu suka memakai Les Toreadors, buat alarm pagi mu, sebelum kamu ke kantor…” begitu ceritanya kepada saya. Hahahaha Les Toreadors memang cocok buat bangun dan semangat ngantor, terlepas lagu ini suka dipakai di podium kehormatan di ajang F1. Dan terus terang ini bukan pertama kalinya saya mendengar cerita kalau adik-adik saya mengeluh kalau saya suka memasang lagu-lagu klasik ataupun opera, dari radio tape kamar saya. Tetapi bukan cerita tentang betapa saya menikmatinya musik klasik yang mau saya tulis di sini, tetapi betapa anehnya cara saya belajar menikmati musik klasik yang konon musiknya orang-orang “berkelas”, dengan cara yang sama sekali tidak berkelas…

Mau tahu dari mana saya belajar pertama kali Carmen-nya Bizet?, Benny Hill orang yang harus bertanggung jawab sepertinya…Eh, siapa itu manusia yang namanya Benny Hill?

Benny Hill adalah seorang komedian berasal dari Inggris, yang memulai debutnya sebagai pengisi acara komedi radio, yang kemudian hijrah ke televisi pada tahun 1949 melalui BBC, dan meraih kejayaannya mulai tahun 1955, dengan program komedinya “The Benny Hill Show”, selain membintangi beberapa film layar lebar…nah dari The Benny Hill Show-nya ini saya belajar Carmen. Gawatnya program komedi Benny Hill yang satu ini sebenarnya program komedi yang penuh slapstick, penuh dengan pelecehan wanita, dan sangat kental nuansa eksploitasi seksnya, walaupun masih dalam taraf sopan, hanya wanita-wanita bikini ataupun nyaris telanjang, tanpa memperlihatkan bagian vitalnya…(damn!), dan kalau mengingat opera musik yang berkelas, ngerti dong betapa kontradiktifnya bagaimana caranya saya belajar, eh tetapi apa hubungannya Carmen dan Benny?

Di salah satu episodenya, di era The Benny Hill Show hijrah ke produksi Thames, Benny Hill sempat membawakan interpertasinya akan opera Carmen ini, opera yang bercerita tentang seorang perempuan Gipsy pelinting lisong yang cantik rupawan nan penggoda bernama Carmen, yang diperebutkan para pria. Untuk lengkapnya? Mending nonton dulu deh, nanti nggak seru…nah versi Benny Hill kebayang dong, Benny Hill yang sangat layak mendapat julukan bocah tua nakal ini, walaupun dia sangat cerdas menurut saya, coba saja lihat komedi-komedi awalnya yang tidak hanya pamer paha, mengobrakabrik Carmen ini tentunya menjadi konyol dan seksi, lengkap dengan paha wanita yang dipertontonkan kemana-mana sebagai alat pelinting lisong…tetapi untungnya Benny Hill, tidak merusak total lagunya, mungkin ini pengaruh dari Benny yang tidak buta akan musik…dia sangat mengerti musik!, paling hanya liriknya saja yang diotak-atik, tanpa merusak komposisi Bizet. Sebenarnya lucu juga saya yang ketika itu SD, di awal tahun 80an bisa nonton Benny Hill berkali-kali, bersama sepupu-sepupu saya, dari video Betamax, mengingat buat ukuran orang Indonesia pastinya Benny Hill masuk kategori “panas”, apalagi ketika saya kuliah/awal kerja semakin kaget saya ketika salah satu televisi swasta Indonesia, menyiarkan Benny Hill, walaupun di jam tayang malam hari, dan telah dibabat sensor hampir 3/4nya, tentunya…sayangnya saya lupa TV apa yang menyiarkannya…

The Benny Hill Show sendiri terkenal dengan ending title scene-nya, orang-orang yang mengejar Benny Hill, dengan speed gambar yang di cepatkan, sehingga menyerupai gerakan film bisu ala Chaplin dulu. Dan tentunya opening/ending songnya, Yakety Sax-nya, Boots Randolph, yang sangat “monumental” itu…ini ada beberapa bukti betapa terkenalnya Benny Hill…

Salah satu versi Benny…

Ini tribute-nya

Kalau di Indonesia, mungkin salah-satu pengakuan betapa terkenalnya Benny Hill (sekaligus betapa menyedihkannya kreativitas komedian kita) dengan seringnya Benny Hill menjadi acuan Warkop DKI, era wanita seksi dan berbikini tentunya. Entah sadar ataupun tanpa sadar, atau malah karena mengira tidak semua orang bisa menyewa Benny Hill Show di rental Betamax, Warkop suka menjiplak beberapa adegan Benny Hill (dan adegan di Three’s Company, film seri Amerika, nanti dipostingan lainnya akan saya bahas), jadi betapa hebatnya si Benny ini.

Bertolak belakang dengan statusnya yang komedian, diakhir hidupnya Benny Hill sangat tragis, meninggal seorang diri di apartemennya dan kuburannya sempat di bongkar oleh fansnya, menyedihkan memang…

Terima kasih Benny…sudah mengajarkan saya Carmen…dan membuat saya mencintai Bizet…


About this entry