Hirst, Hagens, Jesse James dan Resusci Anne
Ngomong-ngomong soal foto jenazah, seperti postingan saya di blog saya yang satu lagi itu, saya sempat nyasar, menemukan situs yang berisikan koleksi foto-foto jenazah, yang dikumpulkan dari beberapa rumah duka, kalau tidak salah dari awal abad lalu, abad 20. Menarik rasanya melihatnya, terlebih melihat cara mendandani terakhir sang almarhum, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Nah, foto-foto jenazah ini banyak terjadi di era Victoria, mengingat tingginya tingkat kematian anak-anak pada era ini. Dan salah satu cara terbaik untuk menyimpan kenangan ini dengan melakukan foto jenazah (post mortem picture), dan lebih gilanya lagi, rata-rata mereka membentuk suatu scene dimana jenazah diatur sedemikian rupa, berpose layaknya orang yang masih hidup, bersama anggota keluarganya yang masih hidup.
Oh ya kalau kamu tidak suka/merasa ngeri/merasa tidak nyaman melihat jenazah sebaiknya embed-an youtube di bawah ini nggak usahlah dilihat…
Saya memang tertarik dengan jenazah, tubuh manusia semenjak saya kecil dulu. Seingat saya, tante saya yang menjadi pengajar di bagian histologi Universitas Indonesia, pernah mengajak saya melihat pameran anatomi manusia yang menampilkan potongan tubuh manusia lengkap yang diiris tipis-tipis dan display layaknya sample sel dalam plat kaca untuk diteropong mikroskop. Dan seingat saya lagi, di FKUI terdapat ruangan penyimpanan organ-organ manusia yang telah diawetkan, bersama dengan model-model tubuh manusia, mulai kerangka tubuh manusia, hingga model fase kusta. Seperti layaknya masuk kedalam museum yang berisikan curious objects. Saya yang SD atau SMP, lupa saya, terkesima melihat tengorang dengan bekas luka tembak di pelipis, atau beberapa tabung berisikan fase-fase terbentuknya janin, hingga bayi-bayi abnormal.
Yang membuat saya terkesima adanya sepotong telapak tangan manusia korban kapal Tampomas II yang tenggelam di perairan Jawa dahulu, yang seingat saya ditaruh kedalam stoples plastik, berisi cairan pengawet, layaknya kue-kue kering lebaran. Takutkah saya? perasaan saya tidak tuh, rasanya saya ingin kembali lagi, dan membuat saya sempat tertarik untuk menjadi dokter. Mungkin kalau dulu saya tidak mengangap pelajaran eksakta menjemukan, serta mengerikan, saya rasa saya sudah menjadi seorang ahli bedah, tidak menjadi seorang desainer seperti saya sekarang ini.
Bicara bagian tubuh yang manusia yang diawetkan, ada dua orang seniman yang “hobi” mempergunakan jasad baik manusia maupun hewan sebagai medium berkaryanya. Yang pertama, Damien Hirst. Saya pertama kali melihat karyanya di salah satu artikel Newsweek atau Time, kalau tidak salah karyanya yang berupa sekor Ikan Hiu yang diawetkan kedalam kotak kaca penuh dengan formalin. Nah Damien seringkali memebelah-belah bangkai hewan, dan memamerkannya secara terpisah-pisah. Adakalanya ia merangkai bagian-bagian tubuh hewan tersebut menjadi sebuah bentuk fantasi dan memberi tajuk pamerannya dengan nama “Beautiful Inside My Head Forever”, dimana salah satunya ia memberi seekor babi sayap dan memberi tajuk “Pigs Might Fly”.
Nah yang satu lagi sebenarnya sih bukan seniman, seorang doktor bernama Dr. Gunther von Hagens, seorang ahli anatomi yang berasal dari Jerman. Nah doktor yang satu ini menciptakan teknik pengawetan jaringan tubuh manusia, yang dikenal dengan metode plastinasi. Gunther, berbeda dengan Damien, lebih terasa kontroversial, karena ia memamerkan serangkaian tubuh manusia, organ dalam manusia secara utuh, yang ia dapat dari beberapa donor tubuh, yang telah ia plastinasi, dengan menyusunya membentuk pose-pose layaknya manusia hidup. Pamerannya yang bertajuk “Body Worlds” mengundang kecaman dari berbagai negara, dari mulai unsur pemerintahan hingga para rohaniawan.
Saya bukan nekrofilia, walaupun organ tubuh manusia/jenazah menarik saya hehehe…
Ngomong-ngomong soal jenazah lagi. Selain menggunakan medium fotografi, senagai alat untuk menyimpan kenangan terhadap orang yang kita kasihi, ada satu lagi cara untuk mengabadikannya, dengan membuat topeng kematian sang almarhum. Setahu saya salah satu pahlawan nasional kita, Sutan Sjahrir, dibuatkan topeng kematiannya, ketika beliau wafat dipengasingan nun jauh di Swiss sana.
Yang menarik saya, topeng kematian jauh ada sebelum ditemukannya kamera, sehingga banyak sekali tokoh terkemuka, yang biasa saya temukan nama dan lukisan wajahnya dalam buku-buku sejarah. Dan melihatnya, seakan bertatap muka langsung dengan tokoh-tokoh terkemuka ini, mulai dari bangsawan hingga penemu dan seniman.
Bangsa Mesir kuno membuat topeng kematian yang dipasangkan di muka jenazah yah sudah dimumifikasi, dengan maksud untuk memperkuat roh dalam menjaga jiwa sang almarhum dari gangguan roh jahat. Salah satu topeng kematian bangsa Mesir kuno yang terkenal adalah topeng kematian Tuntakhamun yang terbuat dari emas bertahtakan permata. Nah topeng kematian Tuntakahmun inilah yang pertama kali membuat saya tertarik untuk mencari tahu tentang topeng kematian…
Di zaman yang lebih modern, sebelum adanya fotografi, selain sebagai memento bagi mereka yang ditinggalkannya, topeng kematian juga berfungsi untuk membantu polisi dalam mencari tahu identitas jenazah tak dikenal, yang bisa mereka tunjukan kepada sanak keluarga yang mencari anggota keluarganya yang hilang. Salah satu contohnya jenazah seorang wanita yang diketemukan di sungai Seine, Perancis, karena dianggap berparas cantik, topeng kematian wanita ini dibuat duplikatnya, dan menjadi pajangan yang hip di rumah-rumah kelompok Bohemia di Paris. Oh ya, wajah wanita tak dikenal ini pula yang menjadi model boneka pelatihan CPR pertama, yang dikenal dengan nama Resusci Anne.
Nah, bebeapa tahun yang lampau saya pernah menemukan satu website yang mengumpulkan foto-foto topeng kematian, dan ada beberapa tokoh terkemuka diantara koleksinya. Mungkin jika suatu waktu saya berhasil berhadapan langsung dengan benda aslinya, sensasinya tentu akan jauh lebih dahsyat ketimbang melihat versi fotonya. Paling tidak seperti berhadapan langsung dengan sang tokoh. Tetapi tanpa berhadapan langsung pung dengan topeng-topeng itu, saya bisa melihat jelas wajah tokoh-tokoh terkemuka ini, seperti wajah George Washington, Abraham Lincoln, hingga tokoh-tokoh penjahat wild west, seperti Jesse James, karena wajah-wajah mereka ini hampir tidak pernah terlihat jelas dalam foto, kecuali Abraham Lincoln tentunya.
Menarik bukan?, terlebih lagi kita terkadang bisa melihat wajah asli mereka sehabis meregang maut, mengerikan sepertinya tetapi menarik…
About this entry
You’re currently reading “Hirst, Hagens, Jesse James dan Resusci Anne,” an entry on Cikibawawaw
- Telah Diterbitkan:
- Februari 28, 2010 / 3:12 pm
- Kaitkata:
- cetak muka, damien hirst, death mask, fotografi, gunther von hagens, jenazah, jesse james, kenangan, topeng kematian




No comments yet
Langsung ke formulir komentar | comment rss [?] | trackback uri [?]