Antara Nyi Tjondrolukito, Connie Francis dan Hava Nageela, Musik dan Saya
Orang kedua yang secara tidak langsung membentuk selera musik saya, selain ibu saya adalah, tidak lain tidak bukan nenek saya, oma, ibu dari ibu saya.
Bicara selera musik, oma saya ini mempunyai selera musik yang lumayan beragam, walaupun sebagian besar selera musiknya tidak bisa masuk di telinga saya hehehe… Ketika saya SMP dan SMA, saya dititipkan oleh orang tua saya kepada oma dan opa saya untuk tinggal bersama mereka, berhubung sekolah saya lumayan jauh jaraknya dengan rumah kedua orang tua saya, walaupun sebenarnya hanya satu setengah jam perjalanan dari rumah saya, menuju sekolah.
Nah karena saya beruntung bisa tinggal bersama mereka ini, saya jadi tanpa sadar terbiasa mendengar berbagai macam jenis musik, yang jauh dengan jenis musik yang biasa didengar oleh anak seusia saya. Di saat kawan-kawan saya mendengarkan musik dengan kiblat American Top Ten-nya Cassey Kasem, ataupun acara musik Rocket, asuhan Jeffrey Waworuntu dan Gladys Suwandi, saya mendapatkan pelajaran lebih dengan mendengarkan musik-musik lain, musik-musik selera oma saya, mulai dari kroncong, country, calypso, dangdut hingga dangdut yang mulai rada-rada house mix.
Bagaimana bisa? karena kamar saya dan kamar oma saya ini letaknya berseberangan, hanya dipisahkan dengan halaman belakang rumah, sehingga musik apapun yang ia pasang dari radio tapenya, tentunya saya tercekoki dengan sendirinya. Dan mungkin sebaliknya, tanpa sengaja saya mencekoki oma saya itu, mulai dari Duran-Duran, hingga Metallica, Guns N Roses…lumayanlah dibandingkan Hank Williams, Connie Francis, Obbie Mesakh, Rama Aiphama, dan lain-lain.
Yah paling tidak jika saya berkaraoke dengan teman-teman yang cenderung milih lagu-lagu Indonesia pop era 80an itu, saya tidak terlalu asing bahkan bisa ikut menyanyikan satu dua bait dari lagu-lagu ini hahahaha, apalagi kalau lagu-lagu Farid Hardja, salah satu playlsit populer kalau berkaraoke tentunya, “Aku Rindu”, “Romantika D’Amor”, lagu-lagu klasik karaoke itu hehehe, apalagi kalau melihat video klipnya hahaha, benar-benar klasik.
Tapi bukan untuk faktor lucu-lucuan belaka, berbagai jenis musik yang ditularkan oma saya membuat saya toleran dan belajar mendengarkan berbagai macam jenis musik hingga kedetail-detailnya. Salah satu berkahnya adalah, saya menjadi terbiasa mendengarkan musik gending Jawa dan kroncong.
Soal musik gending Jawa ini, ada sedikit cerita. Dahulu ketika saya kecil, rumah oma saya ini seringkali didatangi oleh pemusik jalanan, yang membawakan lagu-lagu tradisional seperti Walang Kekek, Ande-ande Lumut, dan lainnya. Terakhir kali ibu-ibu sinden keliling ini datang ke rumah mereka, seingat saya tiga-empat tahun yang lampau, setelah oma saya meninggal dunia. Omapun sebenarnya sering juga menyanyikan lagu-lagu seperti yang dinyanyikan sinden itu ke kami, cucu-cucunya yang “transit” di rumahnya.
Jadi saya sangat tidak asing dengan suara Waldjinah dan Nyi Tjondrolukito, serta lagu-lagu dari Gesang…dan terkadang saya masih suka mendengarkannya dari iPod saya lagu-lagu mereka ini…
Selain lagu-lagu klasik lokal, oma juga membuat saya terbuka mendengarkan lagu-lagu lokal, mulai dari Koes Plus, hingga yang terhitung baru seperti Ermy Kulitt. Lumayan lah katalog musik lokal saya hingga kini, paling tidak dibandingkan dengan teman-teman sekolah lainnya.
Tapi ada satu lagi penyanyi yang walaupun bukan dari oma saya, saya mengenalnya, tapi karena koleksi kaset oma saya ini membuat saya mengenal lagu-lagu lainnya selain lagunya yang berjudul Banana Boat Song (Day-O), Harry Belafonte, sang master Calypso. Belafonte sendiri saya kenal semenjak saya SD, ketika saya menonton film Beetlejuice, dimana dua lagu Harry Belafonte menjadi illustrasi di film tersebut. Mungkin faktor Tim Burton dengan filmnya yang gelap dan aneh, plus faktor Winona Ryder yang menawan, perempuan muda, aneh nan-spooky, dan scene film yang memorable dengan illustrasi lagu Day-O, membuat saya tertarik dengan Belafonte.
Ternyata ketika saya tinggal bersama oma saya ini, sambil mengobrak-abrik koleksi kasetnya yang tersusun rapih seperti toko kaset terkemuka di jalan Sabang ini, saya menemukan kaset berisikan lagu-lagu terbaik Belafonte. Dan semenjak itu saya mencintai Belafonte.
Belafonte sendiri tidak hanya menyanyikan lagu-lagu berirama Calypso, tetapi juga lagu-lagu lainnya hingga lagu rakyat Yahudi, Hava Nagela. Jadi semakin banyak perbendaharaan lagu saya, dan semakin toleran saya mendengarkan berbagai jenis lagu, walaupun musik-musik selera oma banyak yang masuk kategori “kampungan” untuk beberapa orang hehehe… Jadi rasanya tidak heran kalau saya suka mendengarkan lagu klasik India, yang rada mirip dengan musik-musik dangdut ini.
Banyaknya koleksi kaset oma saya ini yang juga membuat saya hobi mengumpulkan kaset, yang kemudia berlanjut ke CD, dan sekarang dalam format MP3. Sayang sekali ketika beliau masih hidup, pemutar MP3 portable belum ada di pasaran, masih hanya bisa didengarkan melalui pemutuar di komputer. Saya rasa iPod akan menjadi benda wajib tenteng oma saya hehehe. Bahkan seingat saya baru di tahun-tahun terakhir hidupnya oma saya akhirnya mengenal kategori CD musik, walaupun sudah sejak lama mereka memiliki pemutar Laser Disc, yang bisa juga dipergunakan untuk memutar CD audio, di tengah tahun 80an, semenjak opa saya membelikan mini compo yang lengkap dengan pemutar CDnya.
Jadi ingat bagaimana paniknya oma saya ketika pemerintah mengalakan anti CD bajakan, sedangkan hampir sebagian besar CD koleksinya berupa bajakan, hasil berbelanja dalam hobi belanjanya di Mangga Dua dulu…hehehehe Hingga keluar titah sang oma, untuk mengeluarkan semua CD yang ada di CD changger di mobil oma saya, berhubung dia takut distop polisi ditengah jalan untuk razia CD bajakan.
Sibuklah saya mencarikan CD-CD nostalgia untuk oma saya, hingga ke jalan Surabaya, karena tidak mudah mencari CD “antik” selera oma saya ini…
Lucu memang ternyata bagaimana selera oma yang tidak sampai 15% masuk di telinga saya, tetapi pelajaran berharga yang saya dapat adalah saya menjadi toleran dengan segala macam musik, termasuk yang banyak orang mengkategorikannya kampungan itu hehehe…
Jadi kangen saya dengan oma saya ini…
About this entry
You’re currently reading “Antara Nyi Tjondrolukito, Connie Francis dan Hava Nageela, Musik dan Saya,” an entry on Cikibawawaw
- Telah Diterbitkan:
- Maret 1, 2010 / 2:57 am
- Kategori:
- musik
- Kaitkata:
- calypso, farid hardja, harry belafonte, hava nageela, nyi tjondrolukito, waldjinah

No comments yet
Langsung ke formulir komentar | comment rss [?] | trackback uri [?]