Asyiknya Bernostalgia Bersama Para Jasad…
Kemarin akhirnya saya berhasil mengunjungi Museum Anatomi milik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, di Salemba. Jadi ceritanya begini…Eh, sebentar!!!, kalau kalian malas/ngeri/tidak suka/tidak tega melihat jasad mending nggak usah baca postingan ini…
Kebetulan saya sedang ada kerjaan dengan FKUI, bantu-bantu sedikitlah judulnya, nah setelah saya selesai menerima brief, saya sempat bertanya, masih adakah museum kedokteran di sana?, soalnya baru kemarin saya mempostingkan tulisan yang sedikit menyinggung tentang pengalaman saya dulu ketika SD ke museum itu. Eh ternyata museum itu masih ada dan asyiknya lagi saya boleh lihat-lihat ke sana, setelah terlebih dahulu dimintakan izin untuk melihat ke dalam, maklum sebenarnya ini buka museum umum, boleh dibilang cuma “gudang”nya bagian anatomi UI, untuk menyimpan sample-sample bagian tubuh, materi mengajar di jurusan itu.
Wah langsung lupa niat awal yang mau memotret bagunan UI yang cantik itu, berubah menjadi foto sesi jasad manusia…senangnya…sungguh senang, amat senang…
Bukan, saya bukan seorang nekrofili bukan juga psikopat seperti halnya Dexter Morgan. Tetapi saya memang tertarik dengan anatomi tubuh sedari kecil, cuma terlalu malas saja untuk belajar pelajaran eksakta ketika saya di sekolah menegah dahulu, sehingga memilih ilmu sosial, yang relatif lebih mudah, menurut saya loh…penyesalan memang tiada guna…tsk, tsk, tsk…
Nah berhubung tante saya yang dosen di FKUI tidak mempunyai anak laki-laki, jadilah saya sering ditanggap sebagai anak laki-lakinya, sampai-sampai saya sering dibawa bermain ke FKUI. Dan entah bagaimana caranya tante saya itu pernah mengajak saya ke museum itu, padahal kalau dipikir-pikir, rasanya aneh juga yah mengajak anak-anak ke museum berisi potongan tubuh manusia, sedikit horror rasanya. Atau mungkin karena tante saya sehari-hari melihat begituan, sehinga dia pikir lazim saja saya melihat potongan-potongan tubuh itu…untungnya saya tidak takut, malah terkesima…
Jadi kebayang dong bagaimana sumringahnya saya yang agendanya menerima brief, menjadi jalan-jalan ke taman bermain saya ketika kecil…lalalala…
Setelah menunggu waktu janjian dengan “kuncen”nya, akhirnya saya di bawa ke sisi bagian anatomi, untuk bertemu dengan kuncennya, dan entah menggapa saya di bawa masuk melalui pintu samping, melewati ruang rapat departemen anatomi, dan akhirnya…
Oh museumku!
Ternyata berbeda dengan apa yang saya ingat dahulu, museum anatomi ini, terlihat bersih, terang, tidak sekelam ingatan saya dulu yang gelap dan remang-remang, dan sempit. Lah ini kok beda jauh yah, padahal mereka bilang museum ini tidak diperbesar, hanya merenovasi langit-langitnya, dengan membuka ceiling hingga terlihat strukturnya, dan sedikit cheesy, diberi warna kuning, warna identitas UI, padahal jika warna asli kayu saja bagus rasanya. Kalau mau maksa harus ada kuningnya, alangkah lucunya jika sistem elektrikalnya menggunakan gaya ekspos kabel, dengan warna kuning dan stop kontak kuning? Ah tapi kan saya tamu di sini, bukan seorang desainer interior/produk…bawel…
Ruangan serasa lapang sekarang, karena lantai diganti keramik putih dan rak kayu berwarna putih, plus yah itu tadi langit-langit dipertinggi…sudahlah pasti kalian sudah tidak sabar lagi untuk tau tentang koleksinya mereka…
Sebagian besar koleksi mereka adalah potongan-potongan tubuh, baik manusia maupun hewan, mamalia, yang direndam dalam cairan pengawet, dalam tabung-tabung dengan berbagai macam ukuran dan bentuk. Kalau kita masuk dari pintu utama kita akan disambut dengan serangkaian alat peraga gerak manusia, jangan bayangkan peraga canggih ala museum sains di luar negeri, yang ini manual semua, menggunakan tuas dan gir tentunya…
Kemudian akan kita temukan patung dada opa-opa Belanda, yang dengan bodohnya saya lupa mencatat siapakah opa itu…sudah kadung keburu terkesima dan terlempar bernostalgia bersama potongan-potongan jasad di sana. Mungkin beliau bapak anatomi di zaman sekolah dokter dahulu di Batavia? mungkin…Di sisi kanan kita bisa temukan patung-patung bagian tubuh manusia, dan berbagai kelainannya, hingga contoh bentuk tubuh yang terkena penyakin, seperti lepra misalnya…
Selain itu kita bisa melihat beberapa jasad hewan yang sudah diawetkan, bukan secara taxidermy ala museum biologi, Bogor…semua dalam tabung formaldehyde…mulai dari yang janin hingga kepala kelelawar raksasa, yang saya sempat kira kepala orang utan, lengkap dengan tangannya yang mengelantung…bodoh…Setelah itu, kita akan menemukan satu lemari besar berisikan manusia lengkap, tetapi hanya berupa syaraf dan beberapa organ tubuhnya, dan oh ya ada juga ada satu buah kerangka gorilla, yang dibuat berdiri tegak layaknya manusia…
Nah mari kita beralih ke ruangan yang lebih besar, ruangan yang tadi saya sibuk bahas…Di sayap sebelah sini, sebagian besar lemari pajang berisikan potongan-potongan tubuh manusia, organ dalam, hingga jasad bayi mulai fase janin hingga siap dilahirkan. Ada juga beberapa kasus dimana bayi/janin berupa bayi kembar, bayi yang mengalami gigantisme, dan lain-lainnya.
Sebenarnya nggak terlalu tega juga rasanya kalau sekarang lihat jasad-jasad bayi-bayi ini, lebih baik lihat kepala-kepala manusia dewasa yang entah mengapa di taruh di rak bagian paling bawah, mungkin karena seram?, sepertinya begitu…Porsi jasad bayi rasanya lebih banyak ketimbang jasad potongan tubuh/organ manusia dewasa di ruangan ini…
Ada juga koleksi tengkorak dari berbagai penjuru nusantara, malah ada tengkorak, yang masih lengkap dengan hidungnya, sepertinya berasal dari Papua. Sayangnya mereka hanya ditaruh begitu saja, layaknya kita pergi ke museum pembunuhan masal, korban Khmer Merah, di Kamboja. Oh ya yang rada nggak nyambung, ada juga koleksi lampu tabung X-Ray dari zaman dahulu dan mesin stensil, yang dulu pernah dipakai di sekolah dokter dulu…
Sebenarnya museum ini sangat menarik, terlepas kalian seperti saya yang suka melihat & mempelajari organ tubuh manusia, dan terlepas kalian penakut atau tidak. Sayangnya walaupun jauh lebih bersih dan tidak sesuram yang saya ingat, beberapa sisi ruangan bocor, hingga terasa lengket jika berjalan di sana, saya sudah nggak berani membayangkan apakah lengket karena jamur atau tercampur dengan cairan formalin plus “sesuatu” di dalamnya itu…Yang terang sepatu saya jadi kesat sesudahnya…
Walaupun ini bukan museum untuk umum, tetapi tetap alangkah baiknya jika terdapat keterangan-keterangan penyerta di setiap displaynya, saya sampai gatal melihatnya dan capek tebak-tebak buah manggis, bagian tubuh apa ini-itu. Kaca-kaca baik lemari maupun tabung kaca penyimpan jasad juga tidak terawat, buram, berjamur..kalau kemarin ada lap dan Clear pasti saya sudah melap-lap ria di sana…
Saya sampai bertanya-tanya sebenarnya museum ini mendapatkan pos dana atau tidak dari Universitas Indonesia, yang kaya raya itu, yang sibuk membangun di nun Depok sana (perpustakaan baru, jalur sepeda baru, penangkaran rusa dan jalan tembus baru), karena terlihat tidak terawat…sayang sekali, terutama jika mengingat saat ini tidak semua mahasiswa kedokteran bisa melakukan praktik langsung membedah pada mayat, seperti senior-senior mereka dahulu, kecuali jika dia seorang mahasiswa spesialis bedah…Potongan-potongan jasad ini tentunya sangat berharga, untuk belajar. saya mau sebenarnya “membantu” mere-layout ataupun mendesain sign system buat museum “keren” seperti ini…
Tetapi, tetap saja saya sangat senang sekali dan bermaksud kembali kesana entah kapan, sambil membawa tripod tentunya…
Tertarik?
About this entry
You’re currently reading “Asyiknya Bernostalgia Bersama Para Jasad…,” an entry on Cikibawawaw
- Telah Diterbitkan:
- Maret 9, 2010 / 4:46 pm
- Kategori:
- anatomi, jakarta, kedokteran



2 Komentar
Langsung ke formulir komentar | comment rss [?] | trackback uri [?]